Antara Aku dan Mukidi

Assalamualaikum Wr. Wb.

Sebelumnya aku minta maaf jika ada salah untuk seseorang yang aku tujukan di tulisan ini. Tulisan ini tidak bermaksud untuk membuat orang yang aku tujukan  pada tulisan ini saat membaca menjadi galau,atau nggak enak gimana, tapi aku berharap memperbaiki keadaan, hiburan,Sillaturahmi dan kebaikan bersama aku, anda, dan keluarga aku. Kenapa aku memilih lewat tulisan posting blog ini, karena aku sadar aku nggak akan bisa mengucapkan lewat suara/kata2 langsung, dan akan aku utarakan isi hati aku sebenar-benarnya dan sejujurnya tanpa ada yang aku tutup-tutupi biar benar-benar plong dan tidak menjadi beban pikiran. Terserah orang lain membaca karya aku ini sebagai short story, tapi bukan dari orang yang benar-benar mengenal aku di friendlist Sosmed secara pribadi, atau sebagai cerita hiburan orang lain yang tidak aku kenal yang menjadikan ini sebuah karya yang menghibur atau hanya untuk dikenang. Atau bisa jadi tulisan aku ini menjadi awal karir baru aku menjadi penulis cerita FTV, novel Chick lit, atau lebih keren lagi film drama nasional pemenang piala citra  kategori film drama keluarga favorit (Abaikan bagian  yang ini).

Ini semua diawali saat Ibukku  belanja kepada salah satu si tukang jual sayur dan buah langganannya (Sebut saja namanya Mukidi nb:nama Samaran jangan tersinggung bagi yang bersangutan, nama yang lagi viral di Internet biasa dipanggil Kid). Sebelumnya sekedar info bahwa ibukku ini adalah penjual kue basah yang menerima pesanan dan menitipkan dagangannya kepada pedagang-pedagang, warung, dan pedagang sayur keliling di kampong aku. Nah Kid ini adalah salah satu patner bisnis(biar kliatan elite ala enterpreneur) dalam menitipkan dagangan kuenya. Selain itu  Kid dan juga temannya sesama pedagang sayur (Sebut saja Bambang Nb: nama samaran juga yang selalu HITZ, panggil saja Bamz) merupakan langganannya ibukku yang sudah bertahun-tahun lalu bahkan mungkin sebelum ibukku berkarir berdagang kue basah. Cerita ini dimulai saat Bamz sudah beberapa minggu libur tidak berjualan. Ibukku sel patner bisnisnya tentu saja bertanya-tanya tentang absenya Bamz. Dan bertanyalah kepada Kid yang menjadi temannya.

“Kid, kamu tau gak Bamz ini kenapa?  Kok udah lama gak jualan.”

“ Aku kurang tau buk,yah nanti kalau ketemu aku tanyakan langsung kalau ke rumahnya (biasanya menggunakan bahasa jawa alus penulis tidak bisa menirukan)”.

“Denger-denger istrinya baru keguguran trus ada masalah rumah tangga gitu yah? Lah iyo wes Rumah Tangga kok malah nyambut gawene tambah nggak semangat. Eman-eman pelanggane wes podho nggole’I (Ibukku jg karena dagangannya juga jadi berkurang). Rabi yo sek urung suwe padahal kok wes ada masalah”.

“Lah ya itu bu. Udah buk tar kita nanti malah jadi Ghibah”.

Nah tiba-tiba datanglah mbak Mia yang tinggal di RT sebelah rumah ku ikut belanja kepada Kid (Nb:nama lengkap Sumiati panggilan Mia, istri orang keuangan yang hoby travelling, shopping, narsis, maaf mbak sungguh  tetap menyayangimu apapun dirimu) anak ibukku yang tertua.

“Nah kalo kamu giman Kid? Udah punya kekasih atau belum?” Tanya ibukku

“Masih belum buk” ini sepertinya mbak Mia juga menyimak karena dari info yang penulis ketahui mbak mia ini jadi saksi di TKP ketika pembicaraan ini berlangsung.

“Loh kenapa kok belum?”.

“Emang ada bu cewek yang mau sama aku?”

“Yah muga-muga aja segera ketemu jodohnya”.

 

 

 

//End Prolog

Kira-kira mungkin seperti itu kejadian awalnya yang sempat bikin aku Baper… Kejadian selengkapnya hanya diketahui oleh pihak yang bersangkutan yang aku tujukan pada tulisan ini dan para saksi.

Selang beberapa hari sejak kejadian itu, ketika aku(Nb:Ayu nama sebenarnya yang mencerminkan orangnya ) pulang kerja sekitar jam 5 sore. Langsung tiduran santai di depan TV tidak pakai mandi karena aroma parfum pagi tadi masih ada dan dingin. Tiba-tiba ibuk dan bapakku juga ikut nimbrung dan mengganggu. Kita saling ngobrol  bahas brita di TV tentang kasus Ahok. Tidak ada ujan, angin  atau petir ibukku langgsung bilang seperti ini.

“ Yu, kamu mau nggak tak comblangin sama Mukidi si tukang sayur itu. Saat itu dia  Tanya juga lagi cari jodoh loh. Orang tuanya juga udah tanya-tanya kapan dia ada rencana Rumah Tangga.”

“Hah? Mukidi… Bukannya anak itu dibawahku? Brondong banget buk. Dia masih baru kuliah aja  udah lulus.” Jawabku yang sebenarnya lumayan shock dan nggak nyangka ada pikiran itu dari ibukku.

“Loh yah  gak apa-apa tah. Mumpung dia juga lagi cari jodoh. Siapa tau ajah cocok. Jangan lupa minggu depan umurmu udah genap 30  tahun loh.Udah tua,  dulu udah punya anak 2 udah besar-besar. Nanti daripada keburu tua. Kalau udah terlalu tua nikah gak bisa punya banyak anak, melahirkan resiko tinggi (dan entah  lupa)”.kata Ibukku

“Oh… iya yah. Mukidi iku anaknya lumayan, S1 bahasa Inggris, pekerja keras dari muda, dan bonus lagi Brondong. Setidaknya kalau dicetak di undangan nggak malu-maluin sama-sama S.Pd. ” lanjut bapakku yang cari mantu kok yang dipikiri gengsi tittle.

“Iya lagian kalo kamu jadi  jodoh sama dia, kamu bisa resain dari kerja yang sekarang biar gak sambat tok. Silahkan mau jual kue lagi kayak dulu, online shop, atau ikut merancang. Tuh kamar depan bisa dibongkan dijadikan warung/gudang sekalian.” Lanjut ibukku.

cuma diam, mendengarkan dua orang ini berkhayal panjang lebar. Dan tiba-tiba keputusannya adalah…

“Ya udah  kasih waktu sehari semalam mikir, kalau iya mau besok  Tanya langsung sama Mukidi.” Tegas bapakku bikin sakit jantung.

“Hadeuh…. Gak taulah, opo jare ntar ae lah… pusing.” Langsung  kluar cabut kabur kerumah mbak Mia di RT sebelah, maunya sih curhat plus minta dukungan.

Sudah sampai rumah mbak Mia  langsung masuk kamar cerita, maunya sich kasih kejutan tentangrencana Bapak dan Ibuk yang menurutku aneh banget. Tanpa disangka-sangka malah lah yang jadi terkejut. Tanpa babibu…  langsung nyerocos. “Hadeuh mbak bapak ibu mulai punya ide aneh, tau  mau di comblangin sama tukang sayur itu Kid. Taukan?” itulah intinya.

“Oh iya…  ngerti kenapa kok ibuk punya ide seperti itu… begini loh cerita awalnya (Sesuai yang penulis tulis di atas, yah sebenernya itu versi mbak mia juga sich aslinya hanya Allah dan yangbersangkutan yang tau).” Dan ternyata malah  yang terkejut.

“ Tahu nggak  dikasih deadline semalem buat mikirin besok harus keputusannya,skripsi aja DL nya gak gitu-gitu amat ada jadwalnya.”

“Yaudah wes dicoba aja, sapa tau jodoh.”

“Tapi di Brondong.”

“Tapi pekerja keras, anggap ajah udah mapan. Dan sepertinya niat cari Istri. Kalau kamu udh bukan waktunya pacaran. Inget umur(lagi-lagi alas an umur).”

“Tapi  pengen jatuh cinta. Perasaan saat berdebar-debar kalau ketemu, kangen (inilah efek terkontaminasi drama korea yang penuh kepalsuan dan imaginasi). Trus kalau nikah pingin jadi pengantin yang banyak senyum ikhlas bukan manten mencureng, mecucu. Bisa jelek tar hasil fotonya.

“Yah coba aja, toh belum dijalani. Lagian kamu jangan kepedean juga, toh dia juga belum tentu mau.”

“Oh iya juga yah… betuh gak usah GeEr”. Setelah itu yah sedikit lega lah.  nggak mau mikirin Deadline aneh tadi.

Pagi kujalani seperti biasa, biar nggak ditanya aneh-aneh dan kabur dari deadline, habis subuh  mandi langsung ke sekolah, pas banyak lemburan pulang sore jam set 6, masuk kamar shalat, tidur (Isya’ tengah malam, dan sering lupa makan).  Alhamdulillah bapak/ibuk nggak tanya aneh-aneh lagi.

Apa sedamai itu? Oh tidak juga.  Hampir setiah hari ibukku bercerita tentang si Kid.  makan pindang beli di Kid,makan ikan tongkol kesukaanku beli di Kid murah dan bagus,  makan Pear dari Kid, makan brokoli yang lagi murah buat bekal juga beli di Kid(Sekarang mahal banget L ).Kalau menghindari pertanyaan comblang mencomblang ok mungkinmasih sempat, tapi kalau topic pembicaraan tentangnya itu yang susah.  Jadilah hampir setiap hari  dengar dan ngobrol tentang dia dan mungkin sedikit Ghibah tentah masalah Bamz. Yang  heran seribu heran ibukku itu kayak wartawan infotaiment seleb professional (Maafkan anakmu ini yah ibukku suayang, tersayang dan paling kubanggakan). Ibukku bisa tau si Kid itu beli pickup harga berapa,punya sapi, kayu sengon, rajin puasa senin kamis dan ntahlah…  aku sendiri kurang tau kedekatan ibuk dan Kid, padahal kalau menurutku itu  termasuk sesuatu yang privasi.

 

====================================================================================

//Bab 2

Hari berlalu dan minggu juga berganti, tibalah saat itu tanggal 25 November hari jumat penuh Baraqah ( Hari guru, sesuai profesiku, garis nasib dan takdir yang tidak bisa dihindari membawa ke dalam profesi yang mulia ini). Hari itu  genap sudah berusia 30 tahun, Alhamdulillah masih dikasih rejeki sehat dan awet muda serasa masih umur 22 tahun(Abaikan ! ini obsesi dan pendapat penulis pribadi). Mengajar seperti biasa istimewanya dalah menyanyikan lagu himne Guru yg bikin terharu. Tentu saja ucapan Ultah  dapat dari sms Gateway instansiku. Nggak ada yang istimewa disekolah. Dan saat pulang kerumah kembali lah aku dapat kejutan dari keluargaku…. Bener-bener membuatku terkejut (terkejutnya mungkin nggak banget-banget, tapi malunyaitu loh yang nggak kuatrasanya).

“Ayu, kamu tau nggak ternyata si Kid situ maul oh sama kamu. Tadi anak nya udah ditanya. Jawabnya kalo kulo she nggeh purun namun larene purun tah kale kulo. Kulo ngge ngoten ini (Kalau aku sih yah mau, tapi anaknya itu mau nggak sama saya, saya ini yah begini ini).” Itu katabapakku langsung to the point tanpa ada basa-basi atau intro terlebih dahulu. (Aku nggak tau sapa yang tanya ini pertama kali sebenernya, ibukku atau sepupuku mbak Harni yang tinggal di depan rumah dan selalu sigap dalam urusan comblang mencomblang, hanya yang bersangkutan dan Allah yang tahu.)

“Hah…Trus” jawabku

“ Yo nggak terus, saiki aku tanya ke kamu mau nggak sama Kid. Ini udah ditanyain langsung nggak ada alas an Cuma GeEr. Anaknya sederhana. Mungkin juga seandainya mau deketin kamu anaknya minder (buat yangsaya tujukan tulisan ini minder/nggak jangan tersinggung hanya visualisasi penulis saja). “

“Haduh…. Kenap langsung frontal tanya langsung begitu?”

“Yah karena kalau nunggu kamu, kelamaan gak maju-maju. Kemarin-kemarin siapa yang minta dicarikan jodoh. Dicarikan betulan dan ada yang mau malah gak mau jawab. ”

“Tapi anaknya kan brondong (lagi-lagi alas an paling kuat).” Jawabku

“Yo nggak apa-apa, kan cuma beda 4 tahun. Dia itu kelahiran tahun 1990 berarti 26 mau 27. Inget loh kamu udah 30 udah termasuk perawan tua,temen-temenmu udah pada nikah semua dan punya anak besar-besar. walaupun  kliatan masih muda nggak beda kok sama dia walupun berondong (lagi-lagi bagian ini dramatisasi penulis yangmerasa masih muda).  Tapi nggak boleh terlena penampilan toh umur nggak bisa bohong, termasuk masalah produktifitas kalau kamu punya anaka nanti. Jangan terlalu tua nggak baik .“

Oke aku diam, tanpa balasan apapun.

“Tadi si Kid juga tanya wetonmu apa, yah aku gak tau cuma tahu tanggal lahir. Trus juga bilang kalau orangtuanya setuju dia juga setuju. Pokoknya anaknya patuh sama keputusan orang tua.” Kata ibukku

“Berarti kalau orang tuanya nggak setuju, dia juga mundur.”

“Sepertinya sih begitu… tapi setidaknya kan anaknya udah mau. Tinggal kamunya aja. Jadi yah jangan GeEr dulu. Wes sekarang pikirkan dulu. Ini sudah terlanjur ditanyain loh anaknya.” Kata bapakku(gak inget bapak/ibuk yang jelas kata orang tuaku).

“Iya aku pikirkan dulu yah.”

“Yah tapi jangan kelamaan mikirnya, nggak baik.Laki-laki itu juga berhak milih, kalau dikampung ini anaknya mau pasti juga banyak kok anak gadis yang mau sama Kid. Aku kasih Deadline 3 hari buat ambil keputusannya(Lagi-lagi Deadline, serasa menuju eksekusi).” Tegas bapakku

“Nggak tau lah pak, aku bingung.Udah mau tidur.” Langsung ke kamar, seperti biasa habis magrib tidur(kebiasaan nggak baik jangan ditiru yah pembaca.)

Sejak malam itu, shalat malam aku lakukan, setidaknya mencari pencerahan. Tapi masih belum ada pencerahan malah gunda gulana melanda. Aku cari pengalihan, tetep rasanya bingung mau jawab apa. Dan taukah, sejak saat itu pula aku serasa main kucing-kucingan. Takut kalau ketemu Kid, mencoba menghindar sebisanya. Pernah Ketemu saat ambil ATM bersama mbakku dalam kondisi gembel belum mandi (Kecantikan alami wanita pada puncaknya itu saat belum mandi dan bangun tidur, no makeup, no style ). Kid tersenyum dan aku memaksakan senyum. Begitu seterusnya, rasanya ada perasaan nggak siap, takut, entahlah perasaan gak jelas dari diriku sendiri. Intinya aku takut di ajak ngobrol sesuatu titik.

Hari ketiga udah tiba, aku belum kasih keputusan, dan bapakku curhat sama mbak Mia tentang nasibku seandainya nggak segera menikah. Bapak takut jika seandainya orang tua nggak sempat menyaksikan putri nya tersayang belum juga menikah, kasihan. Apalagi kalu nggak punya keturunan. Banyak contoh saudaranya yang sampai usia tua belum menikah. Seandainya orang tua sudah meninggal siapa yang menemani kalau nggak keluarga. Saat mendengar pembicaraan tentang mati begitu, hatiku sakitttttt sekali. Betapa hartaku paling berharga adalah Bapak dan Ibukku. Sedih sekali kalau aku harus mengecewakannya. Bapak juga curhat kalau aku terlalu penakut, gak berani ambil resiko untuk mencoba. “Mbok yah prei-prei ngene janjian makan bakso tah lapo ngonoo sambil kenalan dan ngobrol-ngobrol (Itu yang kudengar dari versi mbak Mia).”

Tekanan memberi keputusan  hingga aku sampai demam dari pagi sampai sore (malamnya masih tidur lelap karena besok mengajar), nggak enak makan, mual, emosi sebel yang nggak bisa diungkapkan..Entahlah rasanya dihatiku ada yang mengganjal. Mungkin ibukku juga pernah cerita sama Kid juga kalau aku jarang dimarahi, kalau dimarahi badannya panas. Yah memang seperti itu. Di hati ada perasaan belum siap menerima lelaki manapun, mungkin juga karena trauma masa lalu. Tapi di lain pihak juga sedih dan nggak ingin mengecewakan orang tua. Keluargaku bukan orang yang terlalu materialistis, tapi kebaikan hati yang paling utama.

Hari minggu (kira-kitra tanggal 28 november), saat bangun tidur aku masih di kasur Ibuk sedang menyetrika kita berbincang. Ibukku mempunyai impian dan kekhawatiran yang banyak tentangku. Ibukku khawatir kalau aku punya suami yang keras, karena menghadapiku yang sering menyebalkan butuh kesabaran ekstra. Ibuk juga bercerita tentang adik ipar dan adik laki-lakinya bapak yang membudayakan keluarga bertutur halus(bahsa krama sesama keluarga) baik di agama, saat sengsara suami istri saling membatu. Sekarang hasil yang dipetik adalah anak pertamanya bekerja di Jepang, satunya Bidik kisi kuliah di Unibraw.Dan anak-anaknya sungguh berbakti, selama dia bekerja dia mengambil secukupnya sisanya diserahkan untuk dikelola bapaknya(Beda banget sama aku yang gaji buat traveling, shoping, makan numpang ibuk… maafkan anakmu yah Ibuk, bapak). Dulu tidak terpikir, untuk mencukupi hidup saja susah. Rejeki Allah sudah mengatur yang terpenting Istiqomah berbuat baik. Saat anak-anaknya sudah suksespun tetap bersahaja dan sederhana bahkan masih ngarit untuk kasih makan kambing,jadi tukang kayu. Terserah orang bilang apa, anaknya kerja di Jepang bapaknya masih ngarit. Usaha mebel,sopir. istrinya kerja di pabrik, benar-benar bikin terharu. Bahkan Bapakku daftar untuk naik haji juga terinspirasi dari adiknya yang kehidupannya lebih sering susah dari dia tapi saat ada rejeki segera melaksanakan kewajiban lebih dulu (Jadi berangkat atau tidak yang penting niatnya, karena umur manusia nggak pernah tau). Ibukku bertanya, apa aku nggak ingin punya keluarga yang seperti itu, sederhana tapi damai.
Sebagai seorang anak mendengar petuah-petuah yang seperti itu, bisa dibayangkan gimana nggak terharu. Impian orang tuaku begitu sederhana, anak-anaknya memiliki keluarga yang bahagia dalam kedamaian, dalam lingkungan agama dan kebiasaan yang baik.  Membesarkan dan bermain dengan cucu-cucunya dalam lingkungan yang baik dan mengajarkan hal-hal baik.Tentu saja aku nggak bisa menahan tangis, sungguh berbangga hati nya aku memiliki orang tua seperti mereka. Bukan orang tua yang matre yang memilih menantu hanya dari segi materi, status atau jabatan. Aku benar-benar bersyukur dilahirkan di dalam keluarga ini. Penuh kasih sayang, tidak kekurangan apapun baik materi maupun spiritual. Tidak ada kekurangan apapun, kehidupanku damai dan sempurna, aku dimanjakan sekali.  Duniaku sempurna tapi bagi orang tuaku belum sempurna sebelum menyaksikan anak-anaknya bahagia dan meneruskan hidup dengan baik. (Sungguh saat menulis inipun aku menangis saat menulis paragraph ini ).

Bahkan ibukku juga sempat membandingkan Kid dengan menantunya, mungkin menantunya memiliki penghasilan yang besar, jabatan yang baik, dan pendidikan yangjauh lebih tinggi. Tapi masih ada beberapa kekecewaan dalam sifatnya, sopan santunnya, dan perlakuan terhadap putrinya. Ibukku tau aku tidak sekuat mbak Mia yang lebih keras.  Aku akan patah jika mendapat tekanan, bentakan, atau sesuatu yang keras lain. Bahkan bosku sendiri saat aku dimarahi sedikit aku mogok nggak masuk beberapa hari. Akhirnya yah dibiarkan saja. Ah ternyata lingkunganku dari orang tua, atasan teman-temanku sungguh baik nggak ada yang berbuat kasar kepadaku. Dari cerita tersebut aku sendiri kadang penasaran seberapa jauh ibukku mengenal Kid. Setauku yah cuma belanja-belanja aja.

Dari diskusi panjang itu aku berpikir lagi… tanpa tergesa-gesa. Antara menuruti egoku atau cita-cita orang tuaku. Akhirnya aku meng Iyakan berkenalan dengan Kid. Asal bukan di jodoh-jodohkan atau dipaksa-paksa, apalagi deadline-deadline menyebalkan itu. Biarkan kami mengenal secara langsung dan natural. Silahkan kasih no HP ku dan biarkan dia yang menghubungi ku sendiri. Itulah keputusanku sementara saat itu. Ibuku juga berkata wanita itu lebih baik dicintai daripada mencintai kalau harus memilih. Cinta itu bisa di pupuk, bisa tumbuh karena kebiasaan. Asal sifat dan sikap lelaki pada wanita itu baik pasti akan mudah luluh, kodrat wanita ingin dimanjakan. Kalau hanya Cinta itu sifatnya berubah-ubah dan bisa jadi sesaat, tapi kalau komitmen, kasih saying dan kestiaan itu prinsip yang harus dipegang(Wah filosofi ibukku keren banget kan mungkin efek banyak liat drama India).

Hari berlanjut kira-kira tanggal 28 nov-4 desember aku lalui seperti biasa. Juga belum ada sms. Yang banyak siswa TA, orang tua wali murid, mahasiswa penlitian. Itulah nomer-nomer asing yang tidak aku simpan dan malas menanggapi, apalagi di rumah dan habis maghrib (kebiasaan molor sore). Sempat aku dengar dari ibukku bahwa saat Kid disuruh sms aku dia tidak berani katanya (Hanya bersangkutan yang tau).  Ya sudah aku biarkan saja, aku juga nggak punya nomer dia. Seminnggu ini aku masih galau tapi setidaknya serasa lebih damai. Kau tau para pembaca bahwa galau itu mahal loh ternyata. Gara-gara galau kerjaanku jadi nggak beres, aku telat entry nilai siswa, belum lagi deadline-deadline buat soal untuk UAS. Yah dengan galau tersebut ternyta berakibat sunatan dari gajiku. Ikhlas? Yah tentu saja ikhlas karena tau emang salah dan rejeki yang berkali-kali lipat akan hadir di bulan desember(Gedhe-gedhene sumber). Masih ada beban pikiran tentunya karena ini urusan sama harapan dan cita-cita sebagai seorang anak yang ingin berbakti. Tidak baik ambil keputusan gegabah maka aku meminta saran dari berbagai pihak yang menurutku orang-orang ini mengalami hal yang serupa denganku(orang tua ingin anaknya cepat nikah).

Saran pertama aku dari seorang ustads di sekolahku dan seorang pengajar di pondok di daerah Dinoyo. Aku bercerita tentang kronologis kejadiannya. Dan dengan mantapnya aku disuruh jawab IYA. Katanya tidak ada hal syar’i untuk menolak untuk menikah(Setidaknya di shalat,dan dia bekerja, restu orang tua). Keragu-raguan itu datangnya dari syetan. Jika mencari yang ideal tidak akan ketemu. Menikah menyempurnakan sebagian agama. Masalah umur wanita yang lebih tua tidak masalah asalkan dia bisa bersikap dewasa. Beliau mencontohkan Rasullulah dengan khadijah selisih 15 tahun, sahabatku dengan suaminya yang 7 tahun lebih muda,kemudian temanku dengan muridnya selisih 18 tahun(Ini yang aku bikin Wau… 4 tahun aja udah ngerasa tante-tante, 18 tahun mirip ibu dan anak). Dia juga menceritakan kisahnya yang menikahi santrinya.  Sekitar 6 jam kita berbincang dan ustadz ini sungguh sabar. Dia menyarankan jalan menikah tetap bukan pacaran. Karena pacaran itu banyak dosanya. (Wajar kan ustadz gitu loh). Oke saran pertama ditampung.

Saran kedua, Nah saran ini dari kerabat yang dulu juga dipaksa-paksa orang tuanya untuk menikah dengan pilihannya (Aku tidak dipaksa loh tapi disarankan segera ambil tindakan aja). Dulu dia dijodohkan sama orang tuanya dengan pria yang tidak disukainya. Kluar berdua bener-bener males. Tapi demi orang tua dituruti aja daripadamembuat orang tua menjadi kecewa. Dicoba lah berkenalan. Katanya tar kalau bukan jodohnya juga bakal pisah-pisah sendiri(akhirnya dia tidak menikah dengan pilihan orang tuanya tapi pilihan sendiri).Urusan cinta ? Dia bilang cinta untuk suaminya yang sekarang itu dulu waktu masih pacaran Cuma 20%, gak cinta-cinta banget. Tapi sekarang cintanya naik beratus-ratus persen. Rasa sayang, kangen takut kehilangan, butuh saat berpisah. Dia bilang suaminya bukan tipe yang romantic memberi puisi, bunga coklat. Tapi kasih sayangnya ditunjukkan pada keluarga, kesabaran terhadap anak-anaknya, perhatian, kesetiaan, saling membantu dalam pekerjaan dan tanggung jawab Rumah tangga, penghormatan dia ke keluarku.  Itu yang paling utama dalam membina keluarga biar awet. Inti sarannya adalah, coba dijalani aja dulu, kalau bukan jodoh pasti berpisah, jangan terlena keinginan untuk jatuh cinta. Yang paling penting berusaha memperbaiki diri jadi lebih baik… jodoh sudah ditentukan gak usah galau. Saran kedua ini lebih menentramkan.

Saran ketiga, ini dari teman kuliahku di D3 Poltek dulu. Dia juga belum menikah. Dari penampilan dia itu Ukhty dengan penampilan berhijab besar. Sudah meninggalkan nonton Tv, drama korea, dan shlat-shalat wajib sunnah ceramah agama sering diikuti. Aku bertanya tentang tata cara ta’aruf. Gak mungkin kan aku tanya pacaran bisa dapat ceramah panjang lebar. Dia bilang, dia sudah ta’aruf, walau banyak yangberhasil tapi ketika Allah belum redha juga belum. Sebelum ta’aru katanya dia bikin proposal gitu, isinya tentang biodata, riwayat hidup super lengkap, ditambah visi misi dalam pernikahan.  Pernah menanggung kekecewaan gagal. Dia memberi saran sederhana. Menikahlah karena Allah. Karena ketaqwaan dan kecintaanmu pada Allah. Jangan karena manusia, dan jangan menggantungkan harapan terlalu tinggi pada manusia. Kesedihan dan kekecewaan  itu datang karena manusia yang terlalu berharap. Oke,ini saran agak berat di cerna kalu level agama cetek kayak aku. “Menikah karena Allah, percaya nikmat yang Allah berikan, jangan karena manusia apalagi karena menuruti hawa nafsu.” Sesuai hadist dari pilihan cantik, kaya turunan, pilihlah yang agamanya paling baik apalagi kelak jadi imam dan keluarga dunia-akhirat.

Saran keempat, aku utarakan pada teman kerjaku, soulmateku, teman traveling, dan teman melanggar peraturan sekolah. Dia ini usia sama denganku, nasib juga sama. Perjodohan dan keinginan orang tua untuk segera melihat puti ke 5(5 dari 6 bersaudara) nya menikah. Sifat penakut dan hoby kabur terhadap pria yang lagi dijodohkan mirip banget lah sama aku. Dari banyak pengalamannnya tentu saja jawabnya di iyakan aja, dicoba dulu ntar kalau bukan jodohnya lak pisah-pisah sendiri pasti ada jalannya. Walaupun gak suka atau benci kalau jodohnya ada kebetulan-kebetulan yang nggak bisa dihindari manusia. Scenario hidup dari Allah.Hanya karena dari pihak cowok bilang iya ndak usah terlalu GeEr dulu. Dia udah sering,gagal dalam percomblangan. Dia iya, laki-laki iya, kedua ortu iya, ditanyakan kyai katanya dari nama ndak cocok(ini kyai apa dukun yah?). dia,laki-laki,iya, ortu gak setuju, begitulah nasibnya belum bertemu titik terang sampai sekarang. Bisa juga karena ketidak setujuan alasan weton ndak bagus,nama ndak bagus, lebih tua, pekerjaan, sifat gak cocok,bahkan mimpi dll. Semoga keluargaku terhindar dari yang aneh-aneh seperti itu. Inti sarannya adalah, IYA dicoba aja dulu lebih saling mengenal. Kalau gak jodoh pasti ada jalan untuk berpisah secara alami kok.

Oke dari banyak saran yang aku tampung tadi intinya iya untuk mencoba saing mengenal. Aku juga bilang iya, asal si Kid mau sms duluan.

 

 

 

Desember kelabu,2 sahabatku di kantor resain sampai akhir semester ini, lemburanku banyak sekali, saat guru-guru sekolah lain sudah libur aku masih jadi trainer pelatihan soal ujian online, Ujian TA, revisi, pertanggungjawaban eksul dan entahlah… Rejeki yang lebih yah selalu ada keringat yang lebih pula. Yah itung-itung sebagai pengganti gajiku yang kena korban sunatan tadi. Saat di rumah masih dan selalu mendengar topic pembicaraan tentang Kid.  Cuma Karena aku pulang sore dan kebiasaan tidur sore juga melupakan sejenak masalah deadline. Hehe sebenarnya aku sadar kalau aku seperti mem PHP anak orang. Sedangkan orang tuaku sepertinya nggak mau kehilangan calon mantu idamnnya. Gak Cuma bapak/ibuk, mbakku, sepupuku, budhe ku sepertinya memang ada niatan mendekatkan aku dengan Kid. Kid kan memang langganannya mereka.

Tanggal 2 desember akumendapan SMS dari no asing.

“Assalmualaikum “ ini jam 4 sore

“Waalaikum salam. Sapa yah?”. Aku sebenernya nti balas no gk jelas, tidak ada perkenalan dan gak penting (Selain itu aku gak punya pulsa dibawah 10rb selain pulsa paketdata. Bukannya ngirit Cuma jarang banget kepakai).

“Dwi Ayu, ya?” jam 9.47 PM

“Iya betul. Ini siapa?” Stop sampai disitu nggak ada balesan. GeJe banget kan?

Tanggal 3 Desember

“Assalamualaikum.” Jam 4 sore

“Waalaikumsalam. Ini sapa sich?”

“Assalamualikum,met mlem”. Jam  9.50 PM SMS super duper GeJe banget kan (Dijamin gk kebaca krn abis maghrib udah molor, kebaca tengah malam jam 2 dini hari).

Tanggal 8 Desember

“Assalamualikum “ Jam 6. Kebaca juga tengah malam, .

Tanggal 11 Desember jam 7.38PM , dapat beberapa kali Misscall dari no asing.  Plus SMS “Mohon diangkat yah”. Baru kebaca pagi jam 2 pagi.Truz sempat juga aku ganti kartu sim karena sim ku korslet. No Tidak bisa dihubungi.

Tanggal 12 aku bales setelah pergantian SIM dari gallery indosat.

“Siapa” jam setengan 8 pagi. Aku balas dengan nomor yang lain.

Tanggal 13 Desember ada pesan masuk, dari no asing lagi.

“Dibales Aku Kid… Si Tukang sayur. Kemarin ada perlu, mau bilang ibu’e pyn kalo senin aku libur. Tp yau dah lah gpp, kan semuanya udah lewat.” Akhirnya nomor asing ini mau ngaku juga namanya. Menurutku nggak sopan kalau sms tidak menyebutkan identitas dan sesuai perkiraan sih sebenarnya. Hmm… tapi soal is isms singkat itu sebenernya aku tau kalau itu hanya alas an Kid saja, gimana nggak. Sebelumnya hari minggu dia sempat masuk ke dalam rumahku dengan wajah senyum berseri-seri bawa  tempatnya kue. Aku terima dgn penampilan alami di rumah plus belum mandi  dan baju favorit karena hari minggu. Setelah itu dia uga bilang kalau hari senin jualannya libur(Maulid nabi) Ibukku juga bilang libur karena banyak pesanan dan selamatan juga. Jadi jelas sebenernya isi SMS itu hanya cari-cari alasan untuk  cari bahan pembicaraan (Hanya analisis pihak penulis, belum tentu benar juga).

Tanggal 14 Desember aku balas lagi

“Wah malahan saya yang minta maaf krn slow respon nbanget. Iya gpp hari senin kemarin ibuk juga libur kok.” Yah oke aku harus jujur mungkin ini juga sama hanya alasan saja agar dia tidak tersinggung karena sms nya lama gak dibalas.

Sebelumnya tanpa aku ketahui, sepertinya ibukku, dan saudara sepupuku juga jadi detektif aktif dalam kasus ini. Ibukku mungkin bertanya langsung giman sms’an denganku, hingga akhirnya akupun jadi pihak yang diinterogasi juga. Yah dengan enteng aku jawah “Iya aku sudah di SMS tapi yah pembicaraan-pembicaraan gak penting banget gitu. Malahan isinya Assalamualaikum terus.” Oke fix,  aku jadi bahan bulian keluargaku sekarang. Sepertinya aku yang terlalu cuek. Tapi yah beginilah aku. Aku akan bicara to the point untuk sesuatu yang ingin kuketahui atau ku bilang.

Ada perasaan marah, jengkel juga sih sebenarnya. Tapi sebagai anak yang baik apapun nasihat orang tua harus di dengarkan. Sepertinya disini aku adalah pihak yang salah. Lagi-lagi mereka bercerita tentang si Kid itu gimana, lugu, tidak merokok dan lain-lain mungkin sesuai dengan ajaran PPKn lah. Intinya akan jarang sekali ditemukan makhluk model dia di jaman seperti ini. Mungkin sama denganku dia tipe orang yang tidak bisa berbasa-basi urusan cinta, atau minder saat mau berkenalan denganku (Minder alasan apa coba? Maaf kalau ke GeEran). Dengan saran aku harus membalas dengan ramah jika dia menghubungi lagi. Aku sudah 30 tahun, harus mikir calon suami yang serius. Kasihan kalau aku harus hidup menjomblo seumur hidup. Rasa dikasihani itu ternyata tidak enak L. Terus jangan pernah mempermainkan perasaan orang lain.

Beberapa kali aku sempat bertemu dengan Kid di depan rumah, atau di depan tempat tetangga sebelah tempat dia biasa nangkring dagangan. Karena efek bulyan mbak Mia, dan keluargaku, serta rasamaluku yang terlalu banyak. Yang sebelumnya aku sudah biasa tersenyum, aku jadi iuktan BT sama Kid (Salah apa coba dia yah pembaca?). Malahan mbakku yang selalu tersenyum ramah. Saat sudah tidak ada jalan menghindar yah sudah tersenyum saja ketika bertemu muka.  Jujur saat bertemu dengannya dan mendapat senyum dari dia ada rasa GeEr kalau di mulai tertarik kepadaku (Harap rasa GeEr itu tetep dijaga jangan kebablasan yah !!!#SelfReminder).

Sempat aku mendapat SMS lagi dari dia, lagi-lagi isnya tetap GeJe.

“Assalamualaikum”

“Waalaikumsalam, iya ada apa?” Biasa to the point sesuai kepentingan.

“Sibuk nggak mbak?” Hmm bingung jawabanya, curiga juga jangan-jangan dia mau telp. Trus ngomong sesuatu. Oke aku belum siap ngomong apa-apa. Lagi-lagi jiwa pengecutku muncul. Sebenernya ada banyak juga pertanyaan. Tapi karena aku juga gak bisa berkata-kata ya sudah tidak kubalas.
Lain waktu sempat juga dia telp aku, sepertinya hari sabtu. Oke aku gak boleh jadi pengecut lagi seperti sebelum-sebelumnya.  Aku angkat (Jangan lupa tarik nafas sambil merangkai kata.)

“Iya Asalamualaikum, ada apa?” Biasa langsung to the point seperti biasa.

“Mbak ini aku Kid, tolong bilang ke ibuk pean kalau tadi belum sempatngembalikan tempatnya jajan. ” Oke jelas-jelas cuma cari alasan saja kan.

“Oh iya gak papa”. Akupun juga cuma menjawab.

“ Mbak aku boleh nggak kalau mau ngomong sama sampean?“ Nah ini akhirnya.

“Iya boleh, mau ngomong apa?”

“Yah ngomong biasa-biasa aja kayak gini ini.”

“Iya gak papa silahkan !”

Aku dengar dia dengan nada gelagapan bingung mau ngomong apa. Aku desak lagi “Iya terus?”.

“Aa..aa…Aku gak bisa ngomong. ” Dan langsung tut…tut…tut… telp dimatikan. Oh benar-benar sesuatu yang GeJe bukan. Aku hanya bisa memandangi HP ku, geleng-geleng trus tidur. Dan itulah pembicaraan GeJe pertama antara aku dan Mukidi. (Mungkin kejadian itu sekitartanggal 24 Desember).

 

 

 

Bab 3

 

 

Hari terus berlalu lagi, akhirnya liburanku telah tiba dan sesuai rencana aku mau rekreasi bersama Genk Jomblo bahagiaku ke Probolinggo. Pakai mobil dirumah terus patungan untuk biaya Bensin dan Sopir. Selama itu tetap setiap hari aku masih mendengar topik pembicaraan tengtang Mukidi kapanpun pagi, siang, sore. Aku mulai biasa, mendanggapi, manggut-manggut.  Setidaknya aku anti konfrontasi dengan orang tua. Dan memang nggak ada yang perlu diperdebatkan juga.Karena mbak Mia suaminya yang dari Irian datang jadi nggak bisa ikut. Sisa satu kursi. Aku disuruh menawarkan pada ibuk. Aku suruhlah ibukku libur dulu berjualan. Santai sejenak dari urusan perjajanan. Ibukku ijin dulu sama para pedagang yang dititpi dagangannya termasuk si Kid. Kata ibukku Kid juga tanya. Mungkin itu rekreasi yang melelahkan bagi ibukku, karena tau sendiri kalau keair terjun masih harus berjalan kiloan meter. Berlanjut ke BJBR. Rekreasinya seharian penuh.

Besoknya kita ada acara menjemput Rani (Putri tertua mbak Mia) kegiatan pondok liburan di Batu. Sekalian rekreasi ke Jalibar peternakan kuda Mega Star. Aku, bapak, ibuk, mbak Mia dan si Ganteng Rendra (Putra kedua mbak Mia). Karena dari dulu aku suka sekali kuda punya cita-cita pelihara kuda. Dari kecil punya cita-cita punya kebun luas,sawah, kuda atau sapi perah, tapi sinyal dan akses internet 4G lancer jaya. Kembalilah bullion hadir padaku dari bapka, ibuk, mbak Mia. Dan lagi-lagi tentang Kid.

“Kid itu punya banyak menthok  loh, trus kalau kamu mau sama Kid, asekalian bisa praktek pelihara sapi, atau kuda sekalian tak belikan nggak papa.” Kata ibukku.

“Iya punya pickup juga, dulu kan kamu masih kecil sering minta mobil pickup sesuai cita-cutamu waktu kecil kan?”. (Sekarang aku cita-cita punya Honda Jazz aja ibuk, dulu suka pickup simple karena mabuk’an dan mobil terbuka itu sepertinya menyenangkan. Plus membayangkan kalau pickup dikasih kasur).

“Trus Kid itu alisnya tebal loh, sesuai banget sama cowok-cowok idolamu.” Sudahlah… kalu sudah kena keroyok keluargaku yang kucinta jiwa raga ini jadi speechless.

Besoknya kita masih lanjut rekreasi petik jeruk ke daerah Dau. Tinggi naik ke gunung. Jalan masih berupa batu-batuan makadam. Karena biaya masuk mahal jadilah makanlah jeruk manis dari pohon sepuasnya. Tidak lupa seperti biasanya pembicaraan tentang Mukidi tidak akan terlupa.

“Gini ini kalau beli di mukidi harga tiket satu orang sudah dapat 5kg jeruk.” Yah sudah tapi tetep nggak usahbeli, aku nggak suka jeruk manis.

“Alamnya ini bagus banget yah, pas banget buat orangyang lagi pacaran. Kamu nggak kepingin nyoba-nyoba pacaran berdua,selfie berdua bareng pacar. Biar nggak sama temen cewek terus” kata bapakku, saran yang aneh kan sebagai orang tua.

“Iya Ayu, aku jaman kuliah masih kencan loh, masa gak berani nyoba-nyoba pacaran?” Tanya mbakku.

“Berani nggak?” Tanya bapak.

Langsung aku gelengkan kepaladean bilang “Nggak berani”.

“Wah payah, kalah sama anak kecil-kecil.” Kata mbak Mia.

Oke aku akui aku emang nggak berani pacaran. Mau berusaha mencoba model apapun tetap nggak berani dan rasanya ada yang mengganjal. Apa selama 30 tahun usiaku nggak pernah jatuh cinta dan deket sama cowok? Hello… aku masih normal lah. Masih suka yang namanya kaum adam. Juga pernah beberapa kali dekat dengan lelaki.Tapi kalau harus pacaran pergi berdua,melakukan aktivitas berdua itu yang nggak berani. Rasanya ada perasaan was-was dan dosa. Mungkin juga alasan dari dulu tedoktrin kalau pacaran itu dosa dan salah oleh ukhty-ukhty BDI semasa sekolah. (Maaf ukhty aku belum bisa mengikuti jejak totalitas keshalihanmu)

Sungguh nanggung-nanggung amat memang, aku belum berhijab syar’I, tapi tetep rasanya ada perasaan berkhalwat itu dosa. Pacaran  nggak berani, Taaruf takut kalau gak cocok gak bisa nolak, atau lebih ekstrem takut faham agamanya ndak sesuai.Terus gimana saat aku sama-sama suka dengan seseorang. Yah cukup sama-sama tau, pernah diajak makan berdua tanpa boncengan  jadi yah naik sepeda masing-masing. Intens hubungan telpon, sms.  Tapi saat berpisah itu rasa sakitnya itu luar biasa…

Trauma bisa jadi.Yang jelas menurutku semakin banyak memori yang ditorehkan jika bukan jodohnya akan terasa sakit sekali. Ribet juga harus hapus profil-profil, album di sosmed, berantem lewat sms, telp nggak diangkat marah, menghapus pertemanan paling ekstrem.Jadi yah sekalian aja nggak usah membuat memori. Menurutku memori paling indah itu seharusnya dengan suami/istrinya kelak. Sebaik-baik mantan/orang yang kita suka tetap saja mantan, dan bukan jodoh kita. Bukan orang yang akhirnya berbagi kasing sayang,cita-cita dan masa depan. Jodoh itulah penyelamat dunia akhirat.Tidak layak dibandingkan dengan orang yang bukan siapa-siapa. Dan dari pengalaman coba-coba… sakitnya aku masih belum kuat menanggung lagi.  Ini hanya pendapat penulis, mau pacaran cari jodoh yah silahkan ajah. Toh buktinya yang pacaran juga bnyak yang cepet dapat jodoh.

Kalau menurutku pribadi loh yah, yang so sweet itu saat sama-sama suka saling pendekatan ke keluarga masing-masing. Kangen datang ajah ngapel ke rumah ngobrol di rumah. Silahkan juga minta dimasakin apa gitu, masak bareng, bantu-bantu apa yang bisa bercengkerama dengan keluarga. Kalau yang cewek bisa bantu-bantu cuci piring atau apa gitu biar lebih cepet dapat restu sekaligus biar akrab sama calon mertua.Atau rekreasi keluarga di ajak turut serta(Mungkin tetep pacaran tapi setidaknya ndak berdua). Reuni teman diajak, Intinya ditujukkan secara nyata kepadakeluarga dan teman-teman. Berlaku bagi laki-laki dan perempuan. Tapi kalau sudah menikah wah rasanya ingin sekali adegan-adegan di drama Korea dan India dilakukan semua(sudah halal juga kok), contohnya digendong naik tangga gunung Bromo. So sweet banget kan.

 

 

Bab 04

 

Tanggal 3 Januari aku mulai masuk dan mengajar lagi. Dengan jadwal dan aturan yangbaru.Dimuali jam Kalau makan masakan dari tangan ibukku akubisa bener-bener kenyang dan lahap. (Kayak anak sekolah, biarkan saja setidaknya itulah kasih sayang ibuk tiada batas, padahal disekolah sudah data jatah makan masakan buk Ji). Masakan favoritku adalah tumis bunga kol dengan saos tiram atau jamur. Brokoli sedang mahal-mahalnya harganya.

Nah ini untuk pertama kalinya aku keluar rumah berniat belanja sendiri saat liat si Mukidi di depan rumahku, tepatnya depan rumah sepupuku. Saatnya menghadapi, sudah cukup kabur-kaburnya dan ke-GeEr ku yang berlebih ini. Lagian aku sudah janji pada bapak-ibuk mau kalau harus kenalan/pendekatan dengan Mukidi ini, istilah kerennya mencoba untuk Open My Heart.Bukan nggak kenal, tau sih udah bertahun-tahun cuma yah hanya sekilas lewat tau dia tukang jual buah murah, kuliah di unikama.

Karena sayur permintaanku nggak ada, yah sudahlahaku pesan untuk besok. Sayur bunga kol dan Anggur merah. Agak mahal gapapalah, lagi kepingin juga kok. Berusaha sebagai pelanggan sewajarnya lah yang sedang belanja.Dengan banyak senyukKid mencatat pesananku. Saat mau bali dia masih sempat bilang “Mau kemana mbak? Nggak nemenin aku aj disini dulu.” Aku bilang “nggak”masuk kerumah. Masih senyum juga kok aku, nggak berwajah jutek seperti bapak bilang biasanya. Maslahnya saat bilang itu ada Ibukku.

Udah di rumah ditanyain bapakku “Belanja apa aja?”

“Cuma pesen sayur sama buah.”

“Nggak ngobrol cinta-cintaan?”

“Hadeuh… yah nggak lah. Kayak judu FTV aja.”

Hari berlanjut, pesananku anggur merah yang kemarin nggak ada. Ibukku memasakkan dengan enak sekali. Hingga akhirnya tibalah hari kamis tanggal 5 Januari. Puncak dan alasan ditulisnya dari cerita ini.

Aku buka social media Facebook, aku  menerima pertemanan dari sebuah nama aneh dan asing. Aku buka. Ternyata si Mukidi Abadi. AKu terima friend request tersebut. Kemudian seperti biasa aku stlker timeline dia. Dan jreng…. Jrenng… Jeduar (Efek petir biar mendramatisasi). Aku membaca status di Mukidi ini Engage since 29 December 2016. Aku scroll baca timeline dia yang lain. Ternyata ada kata-kata saling mention dengan perempuan yang intinya “Kamu adalah hadiah di tahun baru ini”. Di lanjut saling coment dari mereka, dan teman-teman si Kid menyuruh segera menikah. Aku lihat posting-posting yang lain dari Kid ini ternyata dia cukup puitis.(Oke fix aku resmi jadi agen stalker sosmed sekarang) . Aku juga liat postingan mbak itu (Sebut saja Annisa) yang sangat ekspresif menunjukkan rasa cinta dan sukanya. Yang hal itu tidak mungkin berani aku lakukan (Bukannya malu, tapi aku menjaga privasi di depan rekan kerja, murid,tetangga, keluarga dan teman-temanku. Seandainya harus menunjukkan semoga bisa disimpan untuk yang menjadi jodohku saja biar tidak diingat orang lain kalau pernah punya mantan. Paling penting perlakuan di dunia nyata). Selain itu seakan-akan Mbak Nisa ini seperti benar-benar menanti hari pernikahan dia dengan Kid kelak. Terlihat sekali bahwa dia benar-benar sedang jatuh cinta dengan Kid.

Hal yang wajar bukan aku stalker pula halaman milik mbak Nisa ini. Ternyata dia masih sekolah, masih berumur 18-19 tahunan. Yah seusia murid-muridku yang biasnya aku peluk,aku hukum, aku nasehati. Byuh kalau dibandingkan denganku yangberusia 30 tahun yah bisa dibayangkan sendiri lah. Wanita 18 vs 30 tahun.  Tapi kembali lagi cinta itu dari hati,anugerah. Tidak bisa mengendalikan memilih kepada siapa dan mengapa. Mungkin sampai disini akhir kisah singkat antara aku dan Mukidi yang tanpa kominikasi yang jelas selama 2 bulan ini. Allah selalu mempunyai cara tersendiri untuk menyatukan dan memisahkan insan manusia.Sekarang aku bisa ikut belanja lagi,bertemu Kid seperti dulu. Tapi aku belum cerita tentang hubungan Kid dan mbak Nisa itu. Aku bercerita pada mbak Mia aja. Aku kira kisah ini akan berakhir disini. Tapi ternyata ini adalah awal penderitaan ini. Alasan terkuat adanya cerita panjang ebar yang Gak jelas alurnya ini.

 

=====================================================================================

 

Sabtu tanggal 7 Desember, aku dan ibukku sakit perut yang menyebabkan nggak enak makan. Terus pagi-pagi saat Kid mau mengambil kue seperti biasa aku bertanya dia jual buah apa aja.

“Sampean jual buah apa aja? “ tanyaku

“ Ada kelengkeng, buah naga, salak .” Jawab Kid

“Pisang ada nggak ? “ Biasanya kalau aku sakit, nggak enak makan yah pisang satu-satunya pengganti energy. Setiaknya jika aku makan pisang saat ual dan akhirnya muntah tidak terlalu pahit.

“Nggak ada, nati kalau mau aku ambilkan di Pak  To (anggap aja sesame pedagang buah mungkin).”

“Ini ada kelengkeng.”

“Aduh nggak deh ini lagi sakit perut. Aku pesan buah naga aja 1 kg. ”

“Iya mbak.”

“Nanti aku pilihkan yang bagus loh yah, jangan yang sisa-sisa pilihannya orang. ” Permintaanku pada Kid.

“Yah nggak lah mbak. Kalau khusus buat sampean pasti aku pilihkan yang bagus-bagus.” Yup bilang itu di depan ibukku.

Aktifitas, pagi hingga siang aku jalani seperti biasa pada hari libur, santai. Aku pergi ke rumah mbak Mia. Saat ituaku juga bercerita kalau aku pesan buah naga sama Kis.

“Sekalian Yu aku pesankan buah juga. Aku mau kelengkeng. Atau salak. Buahku ini di rumah juga lagi habis. SMS kan sekalian.” Kata mbak Mia.

“OK”. Segera aku tulis pesan kepada Kid “Mas, sampean udah balik apa belum? Kelengkengnya masih ada apa belum? Mbak is pesen. Klengkeng atau salak.”

“Udah habis mbak.” Jawabnya. Karena aku kira udah habis yah habis gak ada buahnya kecuali buah naga pesenanku.

“Oke, berarti pesenanku tadi aja yah. Thanks.”

“Ok.” Jawabnya singkat.

Waktu berlalu lagi, aku kembali pulang ke rumahku. Ibuk sedang menunggu Kid mengantarkan tempat kue. Jam setengah 2, Kid belum juga muncul. Aku dan ibuk segera mandi dan shalat. Selesai shalat ibukku keluar, dan yah lumayan terkejut. Tiba-tiba di kursi teras rumah sudah ada berbagai macam buah. Dari salak, buah naga, pisang dua cengkeh. Dan asal tau aja, tadi saat Kidbilangpisangnya nggak ada ibukku juga beli pisan. Ibukku bertanya. “Ini kamu yang pesan?”

“Nggak buk. Aku tadi cuma pesan buah naga 1kg. Ibuk tadi kan dengar sendiri. Trus tadi aku sms pesenannya mbak Mia Kelengkeng atau salak. Jawabnya sudah habis. Yah aku kira pesananku saja.”

“Haduh… masio orang makan kalau segini banyak juga gak habis. Mubadzir kalau banyk sekaligus gini. Suruh mbak Mia kesini ambil buahnya sekaligus bawa timbangan. Kalau disini nanti nggak habis sayang”

“Iya buk.”

Mbak mia segera datang ke rumah membawa timbangan. Ditimbangnglah buah berkresek-kresek itu. Buah naganya 2kg lebih, salak juga 2kg lebih. Akhirnya dibagi 2 satu cengkeh pisang, 1kg buah naga dan salak. Tapi tidak hanya itu yang bikin nyesek dihati.

“Nah itu loh Yu, kalau kamu yang beli langsung ke Kid bisa dapat bonus banyak.” Bapak, kamu jadi pembeli special. (Iya special pakai bingung)

“Iya Yu, aku aja juga kalau beli buah jadi dapat harga special juga.” Sambung mbak Mia.

Aku hanya tersenyum saja,maaf kalau aku merasa GeEr. Tapi omongan orang-orang ini bener-bener mempengaruhi pikiranku. Bathinku juga berkata, tapi calon menantu idaman kalian sekarang sudah punya cewek baru bapak, ibuk.

“Tapi jangan bisa aja ini dagangannya nggak laku, makanya di mbrek-mbrekno sini biar dibayar. Coba SMS kan berapa ini totalnya? Uang kueku 2hari juga belum totalan kok.” Kata ibukku bercanda

“Iya sms’en ajah. Sekalian tanya yang mbak Mia berapa. Totalan loh yah.”

“Iya ibuk, nanti tak sms anaknya.” Intinya orang-orang ini menyuruh aku agar aku sms’an sama si Kid ini.

Dengan penuh rasa dag, dig dug… akhirnya aku SMS dia. Rasanya sesuatu tiba-tiba ada yang mengganjal, nggak enak emosi. Entahlah sesuatu yang sulit untuk diungkapkan. Bisa dibayangkan, yang tadinya aku mau bersikap wajar, mengikhaskan dia dengan orang lain. Tiba-tiba ada perasaan GeEr lagi yang melanda. Bukannya aku gampang GeEr tap kondisi ini tiba-tiba aja muncul. Entahlah seperti dia begitu ramah saat berbicara denganku. Saat aku mau kluar langsung bertemu dengannya. Dengan penuh keberaniasn aku SMS dia juga akhirnya.
“Mas Mukidi, iki buah kok uakeeeeehhh pakek banget…? Padahal aku tadi cuma pesan buah naga 1kg. Trus salak/kelengkeng kalau ada. Katanya abis. Trus rinciannya berapa kg dan berapa bayarnya?” Saat aku SMS pukul 6.39. Oke aku belum mendapat balasan. Sepertinya ini ajang bals dendam kala SMS nya belum aku balas kala aku sudah molor sebelum Isya’. Biasanya pesan baru terbaca jam 2 atau 3 pagi. Mau balas juga apa isinya gak jelas begitu. Mungkin sekarang dia yang illfeel balas SMS ku.

Akhirnya di balas juga 9.33 malam. Cukup lama.

“Khusus sampeyan gak usah bayar mbak hehehe….” Balasnya singkat.  Balasan singkat tapi cukup bikin hatiku nggak tenang.

Aku biasnya jam segini sudah ke alam mimpi, ini sedangmencicil tanggungan RPP (Gak konsen gk jadi-jadi).  Yang jelas malam ini hati rasanya tiba-tiba nggak enak banget. Baca SMS singkat itu makin nggak enak. Kok bisa nggak usah bayar, emang aku siapa? Oke sebenernya jawaban ini bikin aku makin GeEr lagi. Tapi masih teringat sosok Mbak Anis di FB. Aku serasa orang ketiga diantara mereka.

“Loh yah jangan gitu mas, gak ilok. Sampean kerja kok. Yang beli juga bukan khusus aku. Mbakku juga. Tar aku yang diomeli Ibuk.” Ajaran di keluargaku tidak boleh memanfaatkn kebaikan orang lain, mengambil hak orang lain. Bilang beli yah harus bayar. Bapakku juga nyuruh tetep harus dibayar.

“Hehehe…Besok aja di total ibuk. Sekalian aku bayar kue.. Tadisampeayan kemana, aku kesitu kok gak adaorang tapi pintunya kebuka.”

“Ada semua kok lengkap. Mungkin masih shalat. Tadi ditunggu ibuk. Yo kalau gitu, sampean besok siap-siap di omeli ibukkujuga loh yah. Sebelumnya maaf.”

“Aduhhh salah opo aku yo ? ”

“Yo wessampean dengerin dewe aja.Tapi jangan dimasukkan hati yah.”

“Hmm… Age’a kasih tau ??? Aku ben iso golek alasan (Kasih tau biar aku bisa cari alasan)?”

“Yo opo yo… kira-kira, kok di mbrek-mbrekno gak ukuran, gak kemakan mubadzir, iki pesenan opo dagangan sing gak laku ditebasno (Ini pesanan atau dagangan yangnggak laku di jual kesini semua)#perkiraan saja.” Aku cuma menirukan kata-kata ibukku tadi sore.

“HHaha sangking ae mau sampeyan sing pesen ” Oke kata-kata ini cukup nendang. Jadi digratiskan hanya karena aku yang pesan. Ya Allah wajarkah jika aku merasa GeEr kali ini. Ampuni aku.

“Waduh… biasane aku pesen kok ke sampean tapi lewat ibuk. Jadi yo sama aja. Itu aja tar totalan sama ibuk ”

“Hmmz maaf yah ”

“ Yo wes gak ada yang perlu dimaafkan juga kok. Aslinya sampean niat baik kan #terlalu baik. Tapi besok kalau ibukku ngedumel, sampean cari alasan sendiri yah”

“Iyutttzzz….hehehe. Udah kelar RPPne”

“Yo jelas belum lah. Dari 3 mata peajaran masih 3 bab (1 mapel ae belum). Kalau sampean adakenalan mahasiswa TI calo RP. Kenalkan aku.” Serius kadang rasanya aku butuh calo RPP daripada ribet bikin  gini.

“Mending kenalan ma aku ae daripada orang lain hihihi… Ada tapi orang-orang biasanya copy paste. Edit dewe.”Lagi-lagi kata-kata ini biki aku ke GeEr an. Singkat tapi mak jeb banget. Tiba-tiba ada perasaan dag-dig-dug. Jantungku berdetak cepat sekali.

“Sampean kan udah kenal, bapak, Ibuk, mbah, sepupu-sepupuku aja kenal. Kalau maple adaptif normative emang gampang,banyak di internet. Tapi kalau maple produktif(kejuruan) jarang. Biasanya juga gak bikin / nyuruh mahasiswa PPL. Tapi se mini nggak ada PPL. Aku jadi coordinator + instruktur isi kalau nggak biki.” Itulah akhir kalimat panjang.

Itu adalah percakapan terpajang antara aku dan Mukidi dalam 2 bulan terakhir ini, selain kata Assalamualaikum-assalamualaikum yanggak pernahjelas kelanjutannya. Tap mala mini rasanya hatiku tiba-tiba terasa nyesek. Aku inget buah naga, inget mbak Anis di FB dia. Tiba-tiba terasa sedih. Mungkin semuanya sudah terlambat untukku. Ya Allah, jangan terulang lagi kejadian 4 tahun lalu. Aku tiba-tiba menangis. Aku buka FB masa-masa berat kala itu. Status-status yang penuh kegalauan. Saat ini aku bisa tertawa kekonyolan itu. Tapi seandainya harus terulang aku akan patah dan hancur lagi. Stop GeEr.

Mungkin saat-saat kritis, tidak ada yang menolong, saat itulah Allah sebagai satu-satunya penolong. Sungguh manusia itu sebenarya durhaka sekali. Saat galau dia akan berdoa dan berbadah lebih giat. Saat senang dia bermalas-malasan dalam berbadah. Tapi kepada siapa lagi aku meminta. Sejak awal aku merasa terjebak di kondisi ini. Sebelumnya saat mengingat Deadline-Deadline itu, sungguh menyesakkan. Tapi itulah Allah Maha membolak-mbalikkan hati manusia. Dan malam itu jadilah malam yang terasa sangat panjang buatku. Aku berharap segera besok.

Keesokan harinya, aku menanti dia. Yah kuakui aku menanti Kid. Dan saat kulihat dia berhenti membawa barang dagangannya di depan rumah Budhe. Ada perasaan bingung, didatangi atau nggak. Tapi aku harus bilang langsung padanya. Membayar buah yang kemarin dia bawa. Saat aku lihat ibukku sudah berada disana akupun ikut menyusul. Aku melihat dia tersenyum ke arahku. Sepertinya dari bertahun-tahun aku lihat anak brondong ini. Baru kali ini aku juga melihat dan memperhatikan dengan seksama bagaimana wajahnya, tinggi badan, alis matanya yang tebal sekali, trus giginya da yang bolong (That’s the Truth n fact). Sebelumnya yah asal lewat aja.  Ibukku mulai memilih-milih yang akan dibeli. Beli kentang (Niatnya mau dikripik sampe sekarangmasih utuh jadilah niatnya buat selamatan aja).  Aku berniat ingin segera membayar  total buah yang kemarin. Tapi dia bilang seakan-akan sedang sibuk jadi nanti saja. Ntahlah  obrolan apa aja, yang jelas kuingat disitu ada mbak Harni sepupu tertuaku yang juga tukang Gosib, ikut campur urusan orang dan tukang mak comblang paling eksis.

Kid terlihat sibuk banget dengan kegiatan berdagangnya, sambil dia ikut nimbrung rencana rekreasi aku dan mbak Mia ke Jogja yang gagal. Mbak Harni membicarakan tentang keindahan Bromo (Sungguh Bromo seperti dunia fantasy). Aku tahu seperti biasanya mbak harni yang Super duper Kepo, seperti mencari-cari tahu. Mungkin dia mengamati kami berdua jika saling mencuri pandang (Maafyah kalo lagi-lagi GeEr Kid).

“Wuih Kid duitnya banyak banget, sini aku bantu bawa.” Sambil bercanda mengamati Mukidi yang mehitung-hitung uangnya.

“yah silahkan aja mbak dibawa, tapi dibawa aja.” Jawabnya ramah. Yah Kid ini aku akui dia punya trik jitu dalam berdagang. Bersikap ramah pada pelanggan. Yang bener-bener gak akan bisa aku ikuti dengan mukaku yang jutek dan kata-kata yang to the Point. That’s why, aku gk bisa kerja jadi Teller,admin, Custumer Service. Hadeuh… aku orangnya ekspresif, marah, senang, sedih terlalu mudah ditebak.

“Emoh Kid kalau cuma bawa aja.”

“Yo sampean itung sekalian juga gak apa-apa.”

“Iyo wegah kalau di pek gelem aku.”

“Yo iku loh mbak Ayu suruh bawa setoran uangnya” Tiba-tiba saja ibukku bilang itu langung pada Mukidi ini. Bisa dibayangkan.

“Yo gelem aku kalo tinggal terima setorannya” Jawabku menimpali yang sebenarnya malu sekali.

“Iya wes mbak sampean ambil gak papa, tapi sampean tak bawa killing-kliling bakulan.”  Kata-katanya sesuatu sekali bikin. Skak matt lah di aku.

“Emohhh” Jawabku speechless. Dari pada berlama-lama sudahlah aku ajak ibukku pulang saja. Tardaripada ngomong yang aneh-aneh lagi.

Taukah, apa dalam pikiranku saat itu? Kid itu cukup Playboy, dia nggak selugu seperti yang dikatakan ibukku. Buktinya dia berani banget bilang sesuatu yang seperti itu, dan SMS nya kemarin. Secara dia juga ada si mbak Anis itu yang nangkring di status dan Wall Timeline dia.

Aku ceritakan hal ini kepada mbak Mia. Mbak mia itu saudaraku satu-satunya, teman curhat,penasihat, pembela dan pemberi semangat dalam hidupku. Saat aku bercerita tentang SMS kami semalam dan kejadian pagi tadi.

“Awas jangan bermain api loh… Nanti kalau terbakar sakit semua.”

“Bermain api gimana? Yo kamu sakit hati kalau memberi harapan gak jelas.”

“Aku nggak pernah memberi harapan, aku kan hanya merespon.” Sanggahku

“Nanti kalau kamu jatuh cinta kamu bakal yang sakit loh yah. Gak cuma kamu juga pihak yang lain. “ katanya.

“Aku kan nggak jatuh cinta.”

“Yah mungkin aja belum. Namanya hati, Allah yang membolak-balikkan. Manusia kseringkali nggak bisa kontrol bahkan bertolak belakang dengan logika yang ada.”

“Iya, yah ga taulah. Yang jelas aku gak pernah memulai api nya.”

“Tapi bisa terbakar. Coba bayangkan kalau ternyata Kid suka kamu, tapi dia sudahserius sama anka yang di FB. Yang awalnya kamu mungkin gak suka, kamu juga jadi suka Kid. Yang terluka bukan cuma kamu, tapi dia dan orang lain. Udah pokonya hati-hati ajah. Minta Doa diberikan yang terbaik adekku sayang.” Sambil memelukku.

“Iya mbak. Aku juga selalu minta yang terbaik. Semoga dihindarkan dari hal-hal yang nggak bak.”

“Trus kamu udahcerita tentang anak yang di FBitu sama bapak ibuk?”

“Belum sempat mbak, aku takut diomeli, yah seperti yang dulu-dulu. Aku tar dibilang kelambaten dalam bertindak, diambil orang.”

“Iya, tapi kalau dia serius sama anak itu jangan lama-lama. Biar bapak-ibuk gak nggudoi kamu sama Kid lagi. Laki-laki itu masa pubertasnya lama, beda sama perempuan. Jangankan yang single yang beristri saja harus dijaga biar gak direbut yang lebih muda. Anak ABG itu juga lebih ekspresif, saat cinta bisa meluap-luap.Apalagi yang kamu gantung kayak jemuran.”

“Aku nggak pernah nggantung, aku cuma bingung. Aku kalau dulu ambil keputusan iya secara langsung. Mangkanya aku bilang iya tapi kita harus saling mengenal dulu secara alami. Aku takut menyesal. Dalam mimpiku aja aku udah jadi yang antagonis ke dia dalam Rumah Tangga. Aku juga takut jadi Istri yang Nusyuz, durhaka karena efek paksaan. Sedangkan aku ingin sebelum menikah setidaknya jatuh cinta dulu. Biar ikhlas bikin anak dan menjalani rumah tangganya. Kalau ada kurangnya, yah gimana lagi udah pilihan sendiri kan. Sesuai pengalaman jatuh cinta, wanita itu lemah dan mudah memaafkan, takut kehilangan. Jadi saat mungkin orang yang dicintai ada salah masih berpikir berulang-ulang untuk pisah karena rasa cinta itu dan komitmen yang sudah dipilih. Walaupun kadang secara logika ih nggak banget buat dimaafkan.”

“Ya udah, berdoa saja yangterbaik buat jodohmu. Jangan berdoa ngotot buat seseorang. Berdoa yang banyak karena itu pilihan dunia akhirat. Selamanya kalau bisa. Jangan terlalu paranoid takut ini itu.”

“Iya mbak. Siapapun jodohku semoga bisa jadi penyempurna dan pembawa kebahagiaan. Kadang aku berpikir kok gak papa aku menikah telat asalkan kebahagiaan yang kurasakan akhirnya sempurna. Tapi Bapak dan Ibuk nggak sabar dan yang jelas kuatir sekali.” Jawabku.

 

 

Bab 5

Hari senin 9 Januari. Aku terbangun pagi hari jam 2 seperti biasa. Bedanya hari ini perasaanku rasanya tidak enak sekali.  Sesuatu yang sangat menyiksa. Seperti biasa Shalat malam, kali ini aku ingin benar-benar total dalam kepasrahan. Mendekat pada Sang Penciptaku. Usai shalat, mulai aku buka HP. Aku sudah bilang, sejak beberapa hari lalu aku mulai resmi jadi Stalker. Entahlah dorongan menjadi Stalker tiba-tiba muncul, jari-jari menari sendiri. Sebenernya aku sendiri merasa jijay bangetsaat jadi Stalker begini. Ikuti urusan orang lain.

Aku membaca postingan gadis itu di Timeline Si Kid. “Jodoh, mati…” Aku lupa.  Semakin rasa ini timbul tanpa bisa dikendalikan. Sedih, kecewa, iri. Aku lihat dia benar-benar mengekspresikan rasa cintanya pada Kid, memiliki harapan yang sangat tinggi Kid menjadi suaminya, pendamping hidupnya. Mengubah foto profil nya dengan menggabungkan fotonya dan foto si Kid.

Dalam hati aku berkata, jika itu aku aku tidak akan mau melakukan hal-hal seperti itu. Aku terlalu berusaha menjaga harga diriku diantara teman-temanku apalagi murid-muridku. Guru yang sering mengomeli siswanya nggak boleh pacaran, atau bahkan mengomeli siswa yang ‘meso’ walau lewat sosmed. Kaku,kolot biarkan saja, inilah prinsip hidupku. Tidak akan nada perubahan status selain Single dan Married. Tidak akan foto berdua dengan laki-laki kecuali rame-rame dan teman-teman main. Pribadiku terlalu mahal untuk dicampuri dan dibicarakan orang lain. Cukup aku bercerita dengan orang-orang yang kupercaya.

Hari Senin aku mengajar dengan perasaan Galau, sedih, emosi tingkat dewa. Ingin curhat tapi nggak ada orang yang layak di kantorku untuk di ajak cerita. Yah sudah dijalani saja hari ini hingga berakhir jam setengah 5 sore.

Di rumah aku aktivitas seperti biasanya, malas sekali mandi sore. Mau langsung masuk kamar tidur.Cuma menunggu shalat Maghrib.  Lagi-lagi disela-sela rasa nganggur itu aku kembali jadi Stalkernya si Mukidi. Kali ini ada lebih banyak posting di timeline dia yang lebih mencerminkan isi hati gadis itu. Betapa ekspresinya dia dalam mencintai.  Aku baca berulang-ulang, aku stalker lagi halaman dia. Hah ternyata jadi Stalker itu hanya membuat jadi makin sakit. Kali ini aku sadar rasa ini disebut CEMBURU. Rasa iri, ingin memiliki, egois dari manusia. Aku sudah penat, aku butuh pelampiasan emosi ini, aku nggak mau merasasendiri. Ingin sekali menangis, merengek dipelukan ibukku seperti biasanya menceritakan masalah-masalah kantor. Tapi kali ini beda. Aku harus lebih berhati-hati. Jika jiwaku sakit, badanku juga akan sakit. Taukah rasanya ketika tiba-tiba terpikir sesuatu yang menyakitkan perut serasa mual, tiba-tiba muntah. Sungguh tidak enak. Masih banyak hal yangharus aku kerjakan, aku fokuskan, tanggungjawabku.
Aku mulai jujur bercerita pada sahabatku yang sering memiliki kisah cerita dan sifat mirip denganku.  Panjang lebar aku ceritakan. Termasuk mengakui perasaanku saat ini.  Selain itu aku juga bercerita pada mbak Mia. Yah ini terjadi sesuai dengan perkiraannya. Tentu saja dia terlalu banyak baca novel-novel picisan, drama korea, dan FTV, dia kan ibu RT. Sampai pada akhirnya disinilah aku mulai menulis kisah ini.

Hari Rabu aku masih mengajar, setidaknya perasaan dan pikiranku sudah mulai focus. Bagaimana guru algoritma yang mengajarkan logika sedangkan gurunya sendiri logikanya saat ini sedang kacau. Aku sudah membuat keputusan. Aku harus mencabut akar dari permasalahan ini. Ini untuk kebaikan banyak orang.Aku harus mengurai masalah, menganalisis, mencari kejelasan bukti dan fakta. Aku butuh kedamaian jiwa, kesehatan badan, dan yang jelas butuh uang untung bisa konsen bekerja maximal. Aku tidak mau menuruti segala prasangkaku saja. Walau pahit, sakit tahap ini harus segera terlalui. Obat yang pahit bisa menyembuhkan tapi gula yang manis juga bisa jadi sumber banyak penyakit.

Sampai dirumah aku harus eksekusi keputusan yang aku ambil. Mempertanyakan dengantegas dan jelas. Hidup tidak selalu sesuai kita inginkan, tapi bolehlah kita belajar menjadi lebih bijaksana dari perjalanan hidup ini. Dengan mengumpulkan seluruh keberanian aku mula SMS si Mukidi itu.

“Assalamualaikum. Maaf banget ganggu. Ada yang mau aku tanyakan tentang sampean. Apa boleh? ”5.33 PM tepatsaat aku SMS dia.

Oke serasa lama sekali dia balasnya.Akhirnya dibalas juga.

“Waalaikum salam… Boleh aja. Tolong bilangin ibuk ya tadi ngga mampir lupa”

“Selama sampean kenal ibukku apa sampean sering crita-crita tentang hal pribadinya sampean ke ibukku/ atau Budhe Ndut(kakak ke2 ibukku)? Apa ibukku juga sering tanya-tanya yang aneh-aneh? ”

Menurutku pertanyaan ini adalah asal muasal awal kisahini di mulai, aku nggak tau seberapa orang-orang disekitarku ini mengenalnya, seberapa banyak dia tau info-info tentangku dan seberapa banyak dia mudahbercerita tentang hal-hal pribadinya.

“Nggak juga. Kalau buk Ndut pernah main kerumahku, jadi orange tau sedikit tentang aku.” Dari jawaban ini, Mungkin ibukku tau cukup banyak tentang Mukidi juga dari kakanya salah satunya, selain kenal sendiri.

“Trus sekarang status sampean sama mbak yang di Fb itu apa serius resmi sudah tunangan?”

Oke cukup dan tidak pernah ada balasan sampai sekarang. Padahal aku butuh kejelasan. Untuk apa jawaban tersebut ? Untuk mengambil keputusan dan menghadapi orang tuaku. UNtu memantapkan langkahku kedepannya agar lebih kokoh.

Tulisan ini menjelang berakhir. Aku sudah sampai pada tujuan aku tulis ribuan rangkain kata ini. Tidak ada kebongongan sesuai data, fakta, isi hati yang aku alam dan yang bisa aku ingat. Untuk seseorang yang aku tujukan pada tulisan ini. Tolong aku. Aku butuh kedamaian hidup, tidur yangnyenyak dan gaji yang utuh. Aku butuh menjadi lebih kuat. Aku singkirkan rasa malu dan gengsi saat menulis ini. Semua demi hati yang damai, aku nggak mau masalah ini  hanya tertimbun yang suwaktu-waktu bisa kembali, merembet dan menjadi konplikasi hati banya orang.  Sejak awal aku adalah yang terseret, aku yang menerima kejutan, aku yang menerima gambaran, harapan dan khayalan dari orang-orang disekitarku. Tidak pernah aku menduga atau memikirkan akan menjadi seperti ini.

Aku akan mengulang pertanyaan tersebut ?

“Apa sampean serius tunangan sama mbak yang posting di Timeline FB sampean? .” Jika sampean untuk menjawabnya butuh berpikir, maka akan aku kasihkan gambaran dari jawaban sampean tersebut. Silahkan dipikirkan baik-baik, dan apapun jawabannya semoga mau menolong kondisi jiwaku yang sedang sakit saat ini. Aku bisa menunggu tapi tidak bisa menunggu terlalu lama. Sebelum ada hati-hati yang terluka lebih banyak. Syetan itu menggoda manusia dengan keragu-raguan.

 

  1. Seandainya Sampean menjawah IYA SAYA SERIUS, mencintainya dan berencana menikahinya. Maka aku akan membereskan masalahku dengan keluargaku terlebih dahulu. Sejak awal yang ingin comblang-mencomblang aku dan Mukidi ibuk dan bapakku. Maka Tugasku aku harus memberi informasi dan pengertian kepada mereka. “Bapak/ibuk sekarang Mukidi udah punya pacar/atau tunangan loh yah. Aku gak usah di gudoi ma Mukidi lagi. Kalau mau cari calon mantu cari yang lain buk, atau nunggu aku cari dewe, tapi yah sabar jangan di Deadline lagi. Kalau kayak dr Ryan Thamrin juga mau buk aku (kalo ini ngarep).” Lupakan urusan hatiku bagaimana, Allah Maha membolak balik hati pasti aku segera Move On dengan iman. Kita belum berbuat dosa dan tidak ada memori. Ini sebuah cerita akan aku simpan sampai kelak.  Aku hanya butuh ending yang bahagia untuk semua orang. Selama masa Move On itu mungkin aku mohon maaf jika harus hilang dari peredaran. Menghindar kalau ketemu, unfollow FB(Unfollow bukan unfriend, hanya agar tidak muncul timeline. Hanya sementara biar gak jadi Stalker lagi sambil netralisir hati).Tapi sebisa mungkin kalau ketemu aku akan bersikap biasa, apa adanya, termasuk belum mandi. Dan mohon sekali dengan sangat tetap mau dititipi jajan Ibuk, bamz sering gak jualan. Nanti omsetnya berkurang nggak jadi belikan aku sawah dan Honda jazz. Biar ibukku bisa menabung buat bekal naik haji, biaya mantu aku, dan beli belanjaannya sampean. Satu yang pasti Ibukku menyukai sampean sebagai pemuda yang pekerja keras. Tidak ada orang tua yang berniat menjodohkan anak kesayangannya dengan pria yang nggak baik. Seandainya sampean jadi menikah tahun ini jangan lupa Ibuk/bapak di undang. Kalau aku bisa yah bisa nggak. Karena dari pengalaman sebelumnya, aku hadir tapi terus menangis berbulan-bulan jadi harap maklum.
  2. Seandainya sampean jawab IYA TAPI BELUM SERIUS (jawabanku mungkin sama seperti yang di atas juga).D osa pacaran juga ditanggung sendiri. Aku mohon maaf yang sangat banyak,Ini cuma caraku menjaga hatiku. Tenang sampean gak salah sama aku,gak juga PHP aku, rasa ini murni dari Allah yang maha Kuasa membolak-balikkan hati manusia. Sudah takdirnya harus ada cerita. Dan aku butuh cerita baru, umur manusia nggak ada yang tau Galau harus berlalu.
  3. Seandainya ini jawaban sampean. IYA AKU JADIAN SERIUS,MENJANJIKAN PERNIKAHAN, TAPI TERNYATA AKU JUGA SEMPAT ADA RASA SAMA SAMPEAN TIDAK TERLALU MENCINTAINYA (Bukan maksud GeEr cuma antisipasi ajah) . Nah ini kondisi yang lebih rumit. Ini yang perlu sampean pikirkan ulang. Ini menyangkut 3 hati. Laki-laki itu dipegang karena omongannya(Maaf bukan maksud menggurui/sok tau). Jika sampean melanjutkan, bagaimana persaan wanita yang dicintai tidak sepnuh hati. Selain itu hati yang saling mencintai tapi tidak bersatu. Aku, kamu dia sama-sama terluka. Jika salah satu harus dikorbankan, mungkin akan sakit sekali, tapi siapa yang menjamin rasa sakit itu selamaanya. Allah maha penyembuh, apalagi urusan hati. Silahkan meraba rasa sampean sendiri. Tapi kalau saranku jadilah diri sendiri dan ikuti kata hati. Kedewasaan kita diuji saat menyelesaikan masalah dengan bijak. Pilihlah jalan yang Syar’i. Silahkan sharing dengan orang tua, guru/teman dalam mengambil keputusan yang bijaksana. Jangan tergesa-gesa. Pernikahan adalah rencana masa depan, keputusan dan investasi dunia akhirat, orang yang akan mendampingi setiap hari, dilihat setiap waktu dan yang menjadi keluarga.
  4. Seandainya ini jawaban sampean SEBENERNYA AKU SUKA SAMPEAN (Lagi-lagi bukan GeEr, cuma antisipasi aja). Yang dia nggak serius, maka aku akan menyuruh memilih. Jika ternyata aku terpilih. Apa jika memilihku dan hati sudah bertaut akan pacaran. Sama seperti di atas aku tetep gak bisa pacaran, mendengar kata itu membuat hati nyesek, mungkin lebih baik berteman dekat. Harus telp, SMS, antar jemput,update status selfie bareng  itu bukan yang aku butuhkan. Tapi komitmen dan keseriusan. Aku sudah 30 tahun (tua untuk wanita walau masih merasa awet muda :P). Nanti ada pertengkaran gak jelas dan karena hal-hal sepele. Lelah hati ini, kalau gak percaya cemburu tel saja bapak/ibuk sedang apa(Abis maghrib/isya’ molor). Maka aku akan meminta bersikap serius. Silahkan datang ke rumah saat kangen, atau ajak aku ke rumah sampean saat libur. Telp, SMS tapi tidak menuntut saat bekerja/aktivitasa yang lebih penting.Yang jelas biarkan terbiasa dengan keluarga. Restu orang tua itu jg utama. Pondasi hubungan adalah komitmen, kesetiaan dan kejujuran. Silahkan saling menjaga diri,focus pada pasangan . Fokus rencana masa depan menikah dan berkeluarga. Saat aku memilih dan mencintai dengan yakin aku tidak mau digantung dengan banyak alasan penundaan tanpa batas, apalagi alasan-alasan nabung, butuh dana banyak, bahkan apa yang kita miliki secukupnya itu sudah cukup (Mau cuma tumpengan jg gak masalah asal Honeymoon ke Korea). Yang penting syah di mata Agama dan Hukum (Foto dokumentasi bagus). Ingat sesuai hadist Menikah jika mantap harus disegerakan. Lagi-lagi Syetain itu menuju hati yang ragu-ragu. 1 tahun bagi kita mungkin cuma nambah usia, tapi bagi bayi itu sudah melalui banyak tahap mengangkat leher, tengkurap, bermain, berjalan,bicara. Dan aku ingin segera punya banyak anak.  (Aku harap ini terwujud siapapun jodohku kelak).
  5. Seandainya sampean nggak suka aku dan sama dia juga belum mau serius, yah jawaban no 1 atau 2 itu urusan sampean. Aku keluar dari lingkaran ini.
  6. Jika tidak ada pilihan jawaban yangsesuai dari 5 pilihan di atas dalam jangka waktu yang lama, sama aku juga keluar dari lingkaran galau dan berbicara jujur pada bapak/ibuku. Cerita Aku dan si Mukidi ini sudah berakhir.

 

Ini lelahku beberapa hari ini menulis ribuan kata ini, semoga berbuah kisah bahagia dan penjadi salah satu hiburan dan motivasi bagi pembaca yang lain. Tapi aku bahagia bisa menghasilkan sebuah karya cerita dalam masa-masa galauku. Kelak akan aku baca lagi, dan aku ingat moment-moment  tersebut.Semoga Allah senantiasa merahmati hidup kita semua. Allah hafidz

Wassalamualaikum Wr.Wb

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: